Asal Usul Desa Kepunduan Kecamatan Dukupuntang

Gambar Kedung Blangpok. Kepunduan adalah sebuah desa di kecamatan Dukupuntang kabupaten Cirebon. dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 kurang lebih 1500 jiwa. Mata pencaharian penduduk Kepunduan adalah tani dan dagang. Bahkan beberapa tahun belakangan, ini warga desa Kepunduan terserang wabah dagang nasi uduk. Batas-batas desa Kepunduan diapit oleh dua sungai dan dua desa. sebelah barat berbatasan dengan Warugede dan sebelah timur berbatasan dengan sungai Kedawung, sebelah selatan berbatasan dengan desa Cangkoak dan sebelah utara berbatasan dengan Sungai Cimanggung.

Asal-usul Desa Kepunduan

Pada masa ketika kesultanan Cirebon dipimpim oleh Gusti Sinuhun Syarif Hidayatullah dan istrinya Nyi Mas Pakungwati. Pada suatu ketika, Nyi Mas Pakungwati jarang bertemu dengan suaminya, yaitu Gusti Sinuhun Syarif Hidayatullah. Hal ini dikarenakan suaminya sebagai pemimpin kesultanan Cirebon dan juga sebagai waliullah yang bertugas mengembangkan agama Islam.

Untuk menghilangkan kejenuhannya, Nyi Mas pakungwati pergi ke barat hingga ke daerah Warugede. Nyi Mas Pakung Wati pergi karena pundung ( sunda ) yang artinya meninggalkan rumah karena rasa kekesalan terhadap suami. sambil menenangkan pikiran, akhirnya Nyi Mas Pakungwati memutuskan untuk menetap sementara di suatu perkampungan. Oleh masyarakat setempat daerah tersebut diberi nama Kepunduan, dari kata sunda ” Pundung ” yang  kemudian menjadi sebuah nama desa yang disebut Kepunduan yang termasuk wilayah kecamatan Dukupuntang dan Kabupatennya Cirebon

Pengikut Nyi Mas Pakungwati diantaranya adalah Ki Bewid dan Nyi Bewid, Ki Sulun dan Nyi Sulun, dan pangeran Dul, merekalah yang menemani Nyi Mas Pakungwati dalam kepergiannya meninggalkan keraton kasepuhan Cirebon. Sedangkan pengikutnya diperintahkan untuk menetap di daerah tersebut, yaitu Kepunduan. Mereka menetap untuk memeberikan ilmu agama Islam kepada masyarakat serta pengembangan perkampungan. Setelah para pengikut Nyi Mas Pakungwati wafat, masyarakat setempat menguburkan jenazah para pengikutnya di areal dekat sungai Cimanggung yang terletak di perbatasan desa Kepunduan dan desa Warugede.

Di Kepunduan terdapat pula dua tokoh masyarakat, yaitu Ki Argasela dan Nyi Supriya yang dikenal dengan nama Nyi Brintik. Kedua tokoh tersebut menurut masyarakat adalah yang mengawali membuka hutan untuk dijadikan pemukiman penduduk. Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggapnya buyut ( moyang ), sehingga setiap tahun diadakan upacara “Ngunjung Buyut”, yaitu ziarah ke Ki Argasela dan Nyi Brintik yang maksudnya mendo’akan para leluhurnya.

About samekhusni

Aktifis Pendidikan dan Komputerisasi

Posted on October 18, 2012, in News and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: